Profil

Kilas Sejarah Hadziqiyyah : Yayasan Hadziqiyyah merupakan yayasan yang mengelola berbagai macam lembaga pendidikan, berawal dari Pondok Pesantren Hadziqiyyah yang merupakan murni pondok rintisan KH. Hayatun Abdullah Hadziq bukan merupakan pondok peninggalan.

Secara geografis Pon-Pes Hadziqiyyah terletak sebelah timur pondok pesantren Roudlotul Mubtadiin yang tidak lain adalah pondok peninggalan kakek beliau KH. Hasbullah di teruskan KH. Abdullah Hadziq dan sekarang di asuh oleh KH. Ma’mun ZA. yang merupakan kakak kandung beliau dari pasangan KH. Abdullah Hadziq dan Ibu Nyai Hj. Zumrotun. Sepulang beliau dari pengembaraan menimba ilmu dan barokah dari beberapa Ulama’ jawa terkemuka salah satunya adalah KH. Arwani Al Hamil Kudus dan menghatamkan Al Qur’an bil ghoib, banyak dari santri yang berdomisli di Balekambang yang berkeinginan untuk belajar Al Qur’an baik bil ghoib maupun bin nadhor kepada beliau dan untuk yang tidak berdomisili di buatlah gubuk sederhana untuk menginap dan agar lebih fokus dalam mengaji dan berhidmah kepada beliau, dari gubuk inilah awal cikal bakal Pon-Pes. Hadziqiyyah yang sekarang menjadi Yayasan Hadziqiyyah.

Melihat animo para santri yang ingin nyantri dan khidmah kepada beliau dan tidak memadahinya gubuk untuk menampung para santri, pada tahun 1997 di bangunlah sebuah masjid yang terletak di sebelah timur ndalem dan enam kamar di sebelah selatan masjid sekaligus peresmian Pondok Pesantren yang di beri nama Hadziqiyyah untuk mengenang dan tabarukan kepada abah beliau yang bernama lengkap Abdullah Hadziq.

Melihat fasilitas pondok yang kurang memadahi karena belum mempunyai kamar mandi, kamar kecil dan aula untuk mengaji sedikit demi sedikit secara fisik pondok ini terus mengalami perubahan dari tahun ketahun, hingga pada tahun 2002 di mana penulis mulai mengais secercak barokah dan ilmu di pondok yang masih muda belia ini telah memliki 6 kamar, 2 aula, 1 kantor, 1 ruang dapur, 6 kamar mandi dan 5 kamar kecil.

System Pendidikan Hadziqiyyah Dalam Merajut Kedewasaan

Sistem pendidikan yang diterapkan di Pon-Pes Hadziqiyah pada masa itu adalah sistim salafiyah di mana para santri di wajibkan mengikuti pengajian yang di ajarkan oleh beliau dan asatidz baik al qur’an (tahfidz & bi nadzor) maupun kutub as-salaf. Bagi santri yang tidak menghafalkan al qur’an pagi harinya di wajibkan mengikuti kegiatan sekolah di Madrasah Roudlotul Mubtadiin yang tidak lain adalah madrasah peninggalan abah beliau, di tunjang dengan mudzakarah kutub as-salaf (diskusi ilmiyyah kitab-kitab salaf) satu minggu 3 kali dan jam wajib belajar setiap malamnya dan masih banyak lagi kegiatan lainya.

Menanggapi tuntutan zaman globalisasi yang semakin hari semakin kompleks dan memaksa kesiapan dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat yang memerlukan pendidikan sedari dini baik umum maupun agama dan juga skill/keterampilan Pon-Pes Hadziqiyyah meresponnya dengan mendirikan sekolah formal SMP Terpadu Hadziqiyyah pada tahun 2004 yang tahun sebelumnya 2003 sudah berdiri TK Terpadu Hadziqiyyah, dan pada tahun 2006 mendirikan SMK Terpadu Hadziqiyyah sebagai wadah para santri dalam mempelajari sains dan teknologi tanpa meninggalkan pesantren sebagai wahana untuk mendalami ilmu agama, guna memberikan bekal para santri untuk memperoleh keseimbangan antara imtaq (iman taqwa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), sehingga pada akhirnya kebahagiaan dunia dan akhirat dapat di capai.

Berdirinya Pondok Putri

Berawal dari kesadaran akan kebutuhan keseimbangan tadi ada sebagian dari masyarakat yang meminta beliau agar tidak hanya mendirikan pondok putra saja tapi juga pondok putri dan menitipkan putrinya untuk menuntut ilmu di pondok ini yang mana pada waktu itu belum berdiri pondok putri sehingga santriwati menginap di ndalem.

Pada tahun 2004 bersamaan dengan berdirinya SMP Terpadu Hadziqiyyah memanfaatkan bangunan tak beratap bekas ndalem beliau yang lama, di dirikanlah pondok putri dan di bangunlah musholla untuk tempat berjamaah dan pusat pengajian baik al qur’an maupun kutub as-salaf. Dan seiring dengan bertambahnya santriwati di bangunlah kamar untuk menginap hingga sekarang berjumlah 6 kamar dan 4 kamar mandi sekaligus kamar kecil. Di rasa kurang memadahi pada tahun ini (2011) di tambah lagi 3 kamar mandi sekaligus kamar kecil.

Sepertihalnya pondok putri pondok putra pun juga mengalami perkembangan jumlah santrinya bertambah, 9 kamar yang tadinya di rasa cukup sekarang tidak memadahi lagi untuk menampung, sehingga pada tahun ini menjadi 12 kamar dengan merubah 2 aula dan 1 ruang dapur menjadi kamar,

Eksistensi Hadziqiyyah Mempertahankan Kesalafan

Meskipun demikian Pon-Pes Hadziqiyyah tetap eksis mempertahankan pembelajaran dengan system salaf pada malam harinya dan mengkaji kutub al-turots karya ulama’ salaf ash-sholeh mencakup beberapa fan seperti al qur’an, tafsir, hadits, tauhid, fiqih, nahwu, shorof, tajwid dll, dan menghafalkan ilmu alat seperti matan al jurumiyyah, nadzam al imrithi, hingga al fiyyah ibnu malik yang merupakan ciri khas pondok salafi, sebagai wahana memperdalam ilmu agama (tafaqquh fi al-diin).  Dengan bukti pada tahun 2008 Hadziqiyyah membuka lembaga pendidikan berbasis salafi  dengan nama Madrasah Diniyyah Hadziqiyyah dengan jenjang 6 tahun yang mana pada tahun 2011 di rubah menjadi 2 lembaga yakni Madrasah Diniyyah Wustho jenjang 3 tahun dan di lanjutkan Madrasah Diniyyah Ulya dengan jenjang yang sama. Yang nantinya di harapkan iman taqwa dan akhlaq al karimah tetap menjadi fondasi dan bekal untuk mengarungi hidup di masyarakat.

Dengan banyaknya lembaga yang di kelola, Hadziqiyyah pun merubah setatus menjadi Yayasan Hadziqiyyah yang mengelola 1. Pon-Pes Hadziqiyyah (tahfidz al qur’an, pengajian kutub as-salaf) 2. TK Hadziqiyyah 3. SMP Terpadu Hadziqiyyah 4. SMK Hadziqiyyah 5. Madin Wustho 6. Madin Ulya.

Kesimpulan

Hadziqiyyah dari umurnya yang masih muda belia dalam merajut kedewasaan pendidikan mengaplikasikan qoul Ulama’ al muhafadzatu ‘ala al-qadiimi as-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah  (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil system baru yang lebih baik) dalam menawarkan system pendidikan formal tidak serta merta meninggalkan system salaf tetapi tetap memprioritaskan kesalafan untuk mendalami disiplin ilmu agama dalam membekali santrinya, dan membangun fondasi keimanan, ketaqwaan dan ahlakul karimah di era globalosasi. Semoga bermanfaat.  

“Orang yang punya akal harus tau kondisi zamannya

“menjaga tradisi lama (salaf) yang baik,

Dan mengambil sistem baru yang lebih baik”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.